Gjjjjjhg
Melawan bakteri. Antibiotik hanya menyembuhkan penyakit yang disebabkan oleh bakteri, bukan virus. Penyakit yang disebabkan oleh virus akan sembuh sendiri oleh kekebalan tubuh. Itu sebabnya, sebaiknya tidak sembarangan memberi anak antibiotik. Karena pemberian antibiotik yang terus menerus justru membuat kuman jadi resisten atau kebal terhadap ntibiotik. Bakteri yang sudah kebal ini disebut Superbugs. Kalau sudah kebal, semua antibiotik jadi tidak mempan lagi.
Apa jadinya jika balita benar-benar sakit dan memerlukan antibiotik sedangkan antibiotik sudah tak mempan membunuh si kuman? Balita akan mudah jatuh sakit, sakitnya lebih berat, risiko kematian meningkat, lama rawat inap memanjang, dan biaya pun membengkak. Mari jadi orangtua yang bijak dengan mengenal lebih jauh beberapa penyakit anak, sehingga tidak akan sembarang memberinya antibiotik.
Pilek, umumnya disebabkan oleh infeksi virus, sehingga bisa sembuh tanpa obat, atau tergantung kekebalan tubuh anak yang bersangkutan. Anda bisa membantunya dengan memberi anak makanan yang lengkap dengan gizi seimbang, dan minta agar dia banyak istirahat.
Demam, justru merupakan bagian tubuh untuk melawan infeksinya. Ketika anak demam, hal utama yang perlu kita lakukan adalah:
- Mengamati kondisi dan perilaku si anak. Perilaku anak merupakan ukuran yang sangat baik untuk menentukan ada tidaknya kegawatdaruratan.
- Memberi cairan lebih sering dari biasanya (meski sedikit-sedikit), agar anak tidak dehidrasi (kekurangan cairan).
- Menawarkan makanan, misalnya makanan ringan yang segar dan disukai anak. Jangan cemas ketika anak tak berselera makan; toh yang paling dia butuhkan saat demam adalah cairan (ASI dan lain-lain).
- Mengetahui kapan harus ke dokter, yakni bayi kurang dari 3 bulan, demam tanpa batuk pilek sudah berlangsung lebih dari 72 jam (3 hari), kejang, sesak napas, kesadaran menurun, atau dehidrasi berat.
Apa yang harus dilakukan ketika anak batuk?
- Pikirkan penyebabnya! Kebanyakan batuk pada bayi dan anak disebabkan oleh infeksi virus di saluran napas yang akan sembuh sendiri. Batuk yang berkepanjangan tanpa demam dan anaknya baik-baik saja, umumnya disebabkan oleh alergi.
- Jaga asupan cairan balita.
- Hindarkan balita dari zat-zat pemicu batuk, seperti asap rokok.
- Sebaiknya balita jangan diberikan obat penekan batuk maupun pengencer dahak. Biarkan balita batuk.
Radang tenggorokan, banyak orang tua yang menyangka, ketika anaknya menderita radang tenggorokan, maka ia butuh antibiotik. Yang benar, radang tenggorokan pada anak batita umumnya disebabkan oleh infeksi virus. Semua orang ketika flu atau selesma, tenggorokannya pasti meradang; merah dan nyeri. Kondisi ini sebaiknya diatasi dengan mengamati anak, memberinya cairan lebih sering dari biasanya (biasanya minuman yang hangat akan sangat membantu meredakan peradangan), dan jika perlu, berikan obat pereda demam, yaitu parasetamol.
Diare. Diare dengan atau tanpa muntah merupakan suatu refleks untuk membuang segala hal yang tidak ”berkenan” bagi saluran cerna kita, misalnya kuman, virus, racun, atau yang menimbulkan alergi. Jadi, diare dan muntah merupakan reaksi penolakan tubuh terhadap semua yang tak berkenan bagi lambung dan usus. Kebanyakan diare pada anak disebabkan oleh infeksi virus. Semakin sering anak diare, semakin sering kita beri asupan cairan (ASI, oralit, cairan lain termasuk sup atau air buah). Jangan berikan obat untuk menghentikan diare dan muntah, karena akan memperlambat proses “pengusiran”. Anak juga jangan dipuasakan, tawari makan. Ingat, diare tak butuh antibiotik! Kalau tinjanya berdarah, periksakan di laboratorium untuk menyingkirkan kemungkinan amuba.
Buat para bunda rasa ingin tahu balita yang besar, ternyata juga bisa merugikan balita. Terutama saat dia bermain di halaman, bukan tak mungkin kaki atau tangan balita tercemar kotoran hewan tanah yang mengandung telur-telur cacing penyebab penyakit cacingan. Jaga selalu kebersihan, cuci tangan dan kaki sesudah bermain!
Ada beberepa jenis cacing yang bisa menyebabkan penyakit:
- Cacing kremi. Cacing ini mirip kelapa parut, kecil-kecil dan berwarna putih. Awalnya, cacing ini akan bersarag di usus besar. Saat dewasa, cacing kremi betina akan pindah ke anus untuk bertelur. Telur-telur ini yang menimbulkan rasa gatal. Bila balita menggaruk anus yang gatal, telur akan pecah dna larva masuk ke dalam dubur. Kemudian, jika balita memsukkan tangan ke dalam mulut, otomatis itu akan masuk ke dalam tubuh.
- Cacing Gelang. Jika balita kebetulan memegang tanah atau makanan yang mengandung larva cacing gelang, maka larva ini akan masuk ke dalam tubuh balita,kemudian masuk ke pembuluh darah menujujantung, paru-paru, lalu ke lambung dna bersarang di usus halus. Di usus halus ini, cacing dewasa akan “membajak” makanan, sehingga anak mengalami kurang gizi. Selain kurang gizi, cacing dewasa yang panjangnya bisa mencapai 10-30 cm ini akan menyebabkan anak mual, muntah dan diare.
- Cacing Tambang. Caaing ini masuk ke dalam tubuh melalui pori-pori kulit atau makanan yang terkontaminasi cacing ini. Cacing tambang masuk ke aliran darah, lalu ke jantung, paru kemudian ke tenggorokan dan akhirnya ke usus. Cacing tambang hidup dengan mengisap darah penderita. Meskipun ukurannya hanya sekitar 1 cm, tapi bisa mengidap darah hingga 0,03 cc per hari. Ini yang bisa menyebabkan balita menderita kekurangan darah dan zat besi (anemi defisiensi Fe). Saat dewasa, cacing betina akan bertelur dan telurnya akan keluar bersama tinja.
- Cacing cambuk. Hidup di usus besar, terkadang juga di usus buntu sehingg amenimbulkan peradangan. Untuk mencari makanan, cacing dewasa membenamkan kepalanya di dinding usus besar balita. Akibatnya, balita mengalami infeksi yang ditandai dengan nyeri perut, kembung, mual, muntah. Bila tak ditangani, bisa terjadi perdarahan usus dan anemia.
Buat para bunda pemberian makan malam harus tepat agar gizi balita sempurna, dia bisa tidur nyenyak tapi tidak menjadi gemuk.
Sama derajatnya dengan makan pagi dan makan siang, makan malam harus dimasukkan ke dalam jadwal anak sehari-hari. Selain untuk melengkapi kebutuhan gizi anak dalam satu hari, makan malam dapat membantu anak tidur lebih nyenyak di malam hari karena perutnya yang kenyang. Saat tidur pulas itulah terjadi perbaikan dan pembaruan sel-sel tubuh serta proses pertumbuhan, yang memang berlangsung lebih cepat ketika anak sedang tidur dibandingkan saat ia terjaga.
Untuk mencapai manfaat yang maksimal, pemberian makan malam kepada anak harus presisi, yaitu:
1. Jangan sampai terlewat. Prinsip pemberian makan balita adalah sedikit-sedikit tapi sering. Kebutuhan enerji balita dalam satu hari adalah 1000 kalori (balita 1-2 tahun) dan 1500 kalori (balita 4-5 tahun), yang dibagi ke dalam 3 kali makan besar dan 2 kali camilan. Itu sebabnya semua waktu makan penting dan tidak boleh ada yang dilewatkan. Bila sering tidak makan malam, balita bisa kurang gizi atau berat badannya tidak naik-naik, bahkan berkurang.
2. Jangan Dekat Jam Tidur. Pola makan terbentuk dari kebiasaan di dalam keluarga. Istilah early dinner (makan malam pukul 17.00) dan late dinner (makan malam pukul 19.00) pun muncul. Namun late dinner tidak dibenarkan bagi balita, sebab kasihan bila makan malam terlambat, ia bisa kelaparan. Selain itu late dinner juga bisa membuat jeda waktu antara makan malam dengan jam tidur terlalu dekat. Sehingga bisa membuat sistem pencernaan anak bekerja lebih berat saat tidur, akibatnya tidurnya tidak tenang, sakit perut, bahkan muntah! Bila jam tidur anak pukul 19.00, makan malam diberikan pukul 17.00 karena untuk mencerna makanan yang masuk ke tubuh diperlukan kurang lebih 2-3 jam.
3. Presisi komposisi gizinya. Menu makan malam harus mengandung semua zat gizi: karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral, ditambah asupan cairan – kebutuhan cairan tubuh anak 1,5 liter per hari (7 cangkir).
4. Presisi jumlahnya. Nilai kalori makan malam adalah sekitar 200-300 kilo kalori dengan komposisi sumber energi (karbohidrat, protein, lemak) tidak sebanyak makan pagi dan siang, mengingat pada malam hari anak tidak terlalu aktif.
5. Presisi dengan kebutuhan tumbuh kembang anak. Pemberian makan malam idealnya juga memperhatikan hal-hal khusus yang berhubungan dengan kebutuhan tumbuh kembang balita, seperti:
- Minimalkan zat aditif. Riset menyebutkan sejumlah zat aditif yang diberikan pada makan malam dapat mengacaukan jam biologis anak sehingga sulit tidur atau tidur dengan gelisah di malam hari. Meski bersifat individual (berbeda-beda reaksinya antara anak satu dengan anak lain) sebaiknya hindari pemberian makanan olahan/awetan yang banyak mengandung zat aditif. Kuncinya adalah memberi anak menu makan malam yang dimasak/diolah sendiri sehingga kualitas dan kesegarannya terjaga.
- Cermati pemberian dessert, hindari yang terlalu manis atau berkadar gula tinggi seperti cake, tart, madu, permen atau sirup. Konsumsi gula tinggi di malam hari menyebabkan kadar gula di dalam darah tinggi sehingga memicu hiperaktifitas pada anak yang sensitif. Dalam jangka panjang mengonsumsi terlalu banyak gula juga memicu obesitas. Pilihan terbaik untuk dessert di malam hari adalah buah-buahan.
- Hindari minuman berkafein. Kopi tabu buat anak, demikian pula cola yang mengandung kafein. Selain mengganggu penyerapan kalsium, kafein membuat tubuh anak gelisah dan sulit tidur. Pilihan terbaik di malam hari adalah air putih dan susu. Teh juga mengandung kafein, tetapi teh chamomie yang dikategorikan minuman herba untuk menenangkan dan mengundang kantuk, diperkenankan.
- Minum susu sebelum tidur adalah rutinitas yang baik, karena susu menyempurnakan kebutuhan gizi anak. Kandungan kalsium, magnesium, vitamin D, vitamin B12 dan fosfornya membantu pertumbuhan tulang anak agar tinggi dan kuat. Zat serotonin pada susu juga menenangkan otot-otot di tubuh, sehingga tubuh relaks dan siap untuk tidur.
- Beri anak nutrisi spesifik (specific nutrient) sesuai kondisi dan kebutuhannya. Misalnya, pada anak yang mengalami gangguan pencernaan (susah buang air besar atau sering diare) kemungkinan disebabkan oleh saluran cerna yang kurang sehat. Orangtua bisa memberinya zat prebiotik yang baik untuk kesehatan saluran cerna.
Buat para bunda bila diketahui sejak dini, kelainan kaki pad aanak dapat dikoreksi antara lain dengan memakaian gips. Kelainan kaki ini sebaiknya diketahui sebelum balita berumur 2 tahun, dna perbaikan dilakukan sebelum mencapai umur 5 tahun.
Sebelum 5 tahun. Pada umur 7 tahun, perkembangan rotasi persendian lutut sudah hampir berakhir, sehingga rentang waktu untuk mengoreksi tinggal sedikit. Juga kebiasaan berjalan anak sudah mulai terbentuk. Jadi, waktu paling tepat dan baik untuk melakukan koreksi kelainan kaki, misalnya kaki X dan O pada anak adalah sebelum mencapai usia 5 tahun.
Perbaikan bertahap. Upaya untuk memperbaiki kelainan kaki X dan kaki O dilakukan secara bertahap.
- Setelah dilakukan analisa untuk mencari penyebabnya, antara lain melalui Tanya jawab dengan orang tuanya, kemudia anak berjalan di atas kertas lebar yang telah diberi tinta di baliknya dan alat yang disebut footscan. Gunanya untuk mengetahui arah kaki anak saat berjalan serta titik berat tubuh.
- Selanjutnya, akan dilakukan pemeriksaan pada kaki anak untuk mengetahui sudut kaki, serta arah rotasi atau putaran persendian lutunya. Apabila sudutnya tidak normal sesuai usianya, maka perbaikan mulai dilakukan dengan membuatkan semacam sol di dalam sepatu khusus, sesuai dengan tingkat kelainan kaki yang diderita anak.
- Pemantau terhadap tindakan tersebut dilakukan selama 3-6 bulan. Dalam hal ini, peran orang tua sangat penting, terutama dalam membantu memasangkan sepatu pada anak selama beberapa hari.
Pada tingkat kelainan yang lebih berat, perbaikan dilakukan dengan memakaikan sepatu atau alat bantu khusus disertai dengan fisioterapi secara rutin, paling lama, prose skoreksinya akan memakan waktu skeitar 2 tahun.
Perlu Anda waspadai!
- Sampai umur 18 bulan, kedua kaki anak masih berbetuk O. apabila ciri-ciri kecenderungan kaki O di luar batas normal, segera koreksi sebelum balita berumur 2 tahun.
- Tulang paha, tulang lutut, dan arah kaki tidak berada pada satu garis lurus dan tidak seluruhnya menghadap depan.
- Sudut yang terbentuk antara tulang paha dan lutut lebih dari 8 derajat, dan jarak antara kedua tulang lutunya lebih dari 3-4 cm.
- Balita sering jatuh pada usia yang seharusnya sudah bisa berjalan dengan baik.
- Balita mengeluh capek dan minta digendong.
Penyebab Kelainan Kaki Berbentuk X atau O
Anak Anda yang berusia 2 tahun sering terjatuh saat berjalan? Mungkin ada yang salah dengan pertumbuhan tulang kakinya.
Kelainan kaki yang banyak dialami anak balita, umumnya bukan berupa penyakit tulang. Namun, lebih banyak berupa gangguan rotasi atau putaran tulang yang salah, sehingga sumbu putaran bergeser dan tidak jatuh pada titik sumbu yang semestinya. Demikian penjelasan dr. Meidy H. Triangto, SpRM, Kepala Kid’s Foot Rehabilitation Center di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta. “Inilah yang menyebabkan anak yang sudah mulai bisa berjalan, kerap terjatuh,” sambungnya.
Bukan melulu genetik. Kelainan kaki berbentuk X dan O merupakan jenis kelainan yang paling sering ditemukan pada anak balita. Kaki X (genu valgum) dan kaki O (genu varum) menurut dr. Meidy adalah, “Sejenis gangguan pertumbuhan tulang kaki yang menyebabkan terjadinya pergeseran rotasi pada persendian antara tulang paha dan tulang lutut. Gangguan pertumbuhan ini juga mengakibatkan sudut yang terbentuk antara kedua tulang tersebut menjadi tidak normal.”
Akibatnya, saat anak berdiri, titik beratnya tidak terletak di antara jari kaki pertama dan ke-2 seperti yang terjadi pada kaki yang normal. Selain membuatnya sering terjatuh dan mempengaruhi penampilannya, kaki X dan kaki O juga akan membuat anak jadi mudah lelah kalau berjalan dan aktivitasnya pun terbatas.
Penyebab kelainan ini bukan hanya karena faktor genetik, tapi juga ada sejumlah faktor lain, seperti:
- Posisi tidur yang salah, misalnya tengkurap seperti katak. Jika berlangsung lama, kebiasaan ini dapat mengakibatkan gangguan rotasi dan bentuk tungkai.
- Kebiasaan duduk yang salah, misalnya duduk dengan posisi kaki membentuk huruf W.
- Kebiasaan menggendong yang salah, misalnya saat digendong menyamping, kaki anak dibiarkan melingkari tubuh Anda dan membentuk sudut 90 derajat.
- Memakaikan popok sekali pakai dengan cara dan pada saat yang tidak tepat, misalnya terus-menerus pada saat anak sedang belajar berjalan. Hal ini membuat anak sulit menemukan posisi kaki yang stabil.
- Memakaikan baby walker. Anak yang belum cukup kuat menopang berat tubuhnya akan memaksakan salah satu kakinya untuk menyangga seluruh berat tubuhnya. Akibatnya, tungkai bawah dan pergelangan kaki saja yang terlatih, sehingga terjadi ketidakseimbangan kekuatan otot (muscle imbalance). Penggunaan baby walker memang tidak dianjurkan, karena sering juga menimbulkan kecelakaan pada anak.
- Membiarkan anak beraktivitas aktif sebelum tidur siang, bila sudah lelah ajak anak berbaring sambil mendengarkan musik.
- Bila dia sulit tidur, biarkan dia bermain dengan tenang di ranjang.
- Bacakan cerita dengan suara pelan sambil beristirahat
- Lakukan rutinitas tidur siang 1-2 jam setelah acara makan siang dan jangan terlalu sore. Waktu tidur siang yang terlalu dekat dengan waktu tidur malam akan membuat anak tidak siap untuk tidur kembali. Usahakan agar anak sudah terbangun dari tidur siangnya paling sedikit 3-4 jam sebelum waktu tidur malam
Buat para bunda sakit adalah hal wajar bagi balita karena sistem kekebalan tubuhnya belum berkembang sempurna sehingga rentan serangan berbagai kuman.
Jika dalam satu tahun balita sakit 8 kali, itu masih normal, dengan catatan:
- Jarak waktu jatuh sakit tidak terlalu dekat, sekitar 2 bulan.
- Durasi sakit tidak terlalu lama, misalnya, 3 hari hingga satu minggu.
- Jenis penyakitnya ringan, cukup diatasi dengan mengubah diet (menambah asupan zat gizi tertentu, mengurangi makanan tertentu atau mengubah tekstur makanan), menambah waktu istirahat, banyak minum air dan bila perlu berobat ke dokter, cukup berobat jalan, tidak sampai dirawat di rumah sakit.
Bila dalam sebulan balita terserang flu dua kali, terkena diare lebih dari seminggu atau batuk lebih dari 2 minggu, itu termasuk sering dan harus segera dicari penyebabnya. Sebab, bila tidak segera diatasi, dia bisa mengalami gangguan asupan nutrisi, yaitu, zat-zat gizi yang dibutuhkan tidak terpenuhi dengan baik karena selagi sakit umumnya anak enggan makan. Atau, penyerapan zat-zat gizi terganggu, misalnya, karena ia terserang diare atau muntah-muntah. Akibat lain adalah, kenaikan berat badan anak jadi kurang atau rendah, pertumbuhan dan perkembangannya pun terhambat.
Agar Balita Tak Sering Sakit
Lima tahun pertama adalah masa emas kehidupan anak. Namun, selama masa emas itu sistem kekebalan tubuhnya belum berkembang sempurna sehingga rentan terhadap serangan berbagai penyakit. Ada hal-hal mendasar yang perlu dilakukan orangtua agar anak tidak sering sakit.
- Menyiapkan pencernaan sehat sejak dini. Saluran pencernaan sehat adalah awal tubuh yang kuat. Sebab, sekitar 80% sel yang memperoduksi antibody berasa di saluran pencernaan. Zat antibody ini berfungsi sebagai ‘pasukan tentara’ yang akan ‘berperang’ melawan kuman penyakit yang akan masuk ke dalam tubuh balita. sehingg adalah penting untuk memelihara kesehatan saluran cerna. Saluran pencernaan yang sehat juga akan menguraikan dan menyerap berbagai zat gizi yang dibutuhkan tubuh secara optimal untuk menjalankan proses tumbuh kembang. Menyiapkan saluran pencernaan yang sehat diawali dengan pemberian ASI eksklusif sejak anak lahir hingga usia 6 bulan, dan tetap diberi ASI hingga usianya 2 tahun.
- Memenuhi semua jenis imunisasi wajib dan anjuran sesua usia dan jadwal.
- Menerapkan pola makan sehat dan bergizi seimbang. Perbanyak menyajikan menu dari sayuran dan buah-buahan agar kebutuhan vitamin dan mineral terpenuhi dengan baik, guna memperkuat sistem kekebalan tubuh. Hindari pemberian makanan berpengawet (misalnya: sosis, kornet bakso, mie instant), makanan atau minuman terlalu manis (cokelat, permen), makanan berzat pewarna dan banyak mengandung vetsin (MSG).
- Terapkan pola hidup sehat, pastikan anak beraktivitas, berolahraga dan beristirahat cukup setiap hari.
Tips Merawat Balita Sakit
Merawat balita yang sedang sakit memang tidak mudah. Perlu kesabaran ekstra, terutama menghadapi ulah “ajaib”-nya yang sering bertentangan dengan usaha Anda agar dia cepat sembuh. Kiat-kiat berikut mungkin bisa membantu Anda.
Agar mau makan. Gugah selera makannya agar asupan nutrisinya terjaga.
- Layaknya direstoran, tawarkan beberapa menu makanan sehat untuknya dan biarkan ia memilihnya. Tentu saja, semua makanan itu memang diijinkan dokter. Bila perlu lakukan sambil bermain peran, misalnya Anda kenakan topi chef lengkap dengan celemek masaknya.
- Sajikan dalam bentuk yang menarik dan ras ayang lezat.
- Gunakan peranti makan-minum yang lucu dan menarik.
- Lakukan permainan pemecahan rekor makan dengan menantang anak untuk selsai makan dalam 10-15 menit. Bila berhasil, ia mendapat ‘hadiah’ boleh nonton televisi dari awktu yang selama ini menjadi aturan bersama.
Agar mau minum obat, yang biasanya susah diberikan pada balita gunakan trik.
‘Sembunyikan’ obatnya dalam makanan atau minuman favoritnya. Misalnya, obat yang berbentuk bubuk atau puyer dalam agar-agara atau puding, lalu obat sorup dalam jus buah atau es bertangkai. Atau, bagi anak yang sudah di atas satu tahun, obat bisa diberikan bersama sepotong kue yang dicampur madu.
Agar lebih betah di kamar sehingga ia tidak berkeliaran yang akhirnya memperlambat proses kesembuhannya, ciptakan suasana yang nyaman. Selain pencahayaan, sirkulasi udara dan kebersihan tempat tidur yang baik, balon atau aneka hiasan kertas bisa membuat pasien cilik Anda betah di kamarnya.
Agar tidak turun dari tempat tidur terutama jika dokter mengharapkan balita banyak berada di atas tempat tidurnya, lakukan aktifitas yang menarik. Misalnya:
- Bermain dokter-pasien dengan beberapa bonekanya.
- Menggambar atau mewarnai gambar.
- Kegiatan buka kado. Bungkus beberapa mainan atau bajunya, baik yang baru atau koleksi lamanya, secara menarik. Perhatian balita bisanya lebih berfokus pada kegiatan membuka kado daripad apa isi kado tersebut.
Buat para bunda anak berkebutuhan khusus autisme, biasanya bisa dikenali tanda-tandanya sebelum anak berusia 3 tahun. Berikut cara mengenali gejala autisme.
Gejala autisme bervariasi, dari yang parah sampai yang terlihat normal, diantaranya
- Anak kesulitan berinterasi, bermain atau berhubungan dengan orang lain.
- Menghindari kontak mata, tidak memandang lawan bicara.
- Melakukan gerakan tubuh yang tidak biasa seperti mengepak-ngepakkan tangan, berputar-putar, melompat-lompat.
- Mengalami keterlambatan dalam tahap perkembangan.
- Gemar memainkan mainan yang sama terus menerus dalam gerakan berulang-ulang.
- Anak menggunakan bahasa yang sulit dimengerti.
Tips Menangani Anak Autis
Untuk mengetahui dan menangani anak yang diduga mengalami gangguan autisik atau tidak, perlu beberapa tahap berikut.
- Skrining. Skrining ini ada beberapa macam. Bentuknya berupa pertanyaan kepada orang tua anak. Skrining dapat dilakukan untuk semua anak. Jika hasil skrining menunjukkan adanya gangguan, orangtua sebaiknya datang ke dokter untuk melakukan assessment.
Skrining untuk mengetahui apakah anak mengalami gangguan autistik dapat dilakukan mulai usia 11 bulan. Di bawah usia ini belum diketahui apakah bayi sudah mempunyai masalah dalam interaksi sosialnya atau tidak. - Assesment. Ini semacam skrining yang lebih dalam lagi. Biasanya dilakukan beberapa kali dengan mengajukan berbagai pertanyaan kepada orang tuan, sementara anak dibawa untuk diobservasi. Ahli akan melihat IQ-nya, gangguan perilakunya, interaksinya, hiperaktif atau tidak, seberapa besar derajat gangguan interaksinya, dan lainnya. Semua itu untuk menentukan langkah apa yang akan dilakukan selanjutnya. Mungkin saja, anak hanya perlu stimulasi yang dapat dilakukan orang tuanya setiap hari, atau ia membutuhkan terapi khusus.
- Terapi. Terapi ini diberikan disesuai dengan kebutuhan anak. Ada anak yang membutuhkan terapi dengan obat-obatan, terapi sensorik (dengan berbagai latihan), terapi individual (misalnya, terapi wicara), dan sebagainya.
Jika memang anak terdiagnosa autis, ikutilah saran ahli untuk penanganan selanjutnya.
Sekitar 50% anak usia balita, paling tidak pernah satu kali terserang radang telinga tengah (otitis media), dalam rentang satu tahun pertamanya. Ya, bahkan di Amerika Serikat, menurut dr. Barbara P. Homeier dalam artikelnya “Middle Ear Infections” di situs www.kidshealth.com edisi Januari 2005, 3 dari 4 anak balita, yang berarti 75%, pernah menderita radang telinga tengah sebelum dia berumur 3 tahun. Malah mungkin saja, sampai balita memasuki usia sekolah, dia masih rentan terhadap gangguan pada telinga ini.
Mengapa sering menyerang anak balita? Salah satu faktor penyebabnya adalah karena saluran penghubung antara telinga tengah dengan atap tenggorok yang berdekatan dengan lubang hidung bagian belakang (Eustachius) pada anak balita, yang masih dalam masa pertumbuhan dan perkembangan, belum sempurna. Yakni, lebih pendek, lebih sempit dan lebih mendatar dibandingkan orang dewasa. Akibatnya, saluran ini dengan mudah dapat tersumbat, misalnya karena terjadinya infeksi atau alergi.
Nah, adanya cairan atau pembengkakan selaput lendir di dalam saluran Eustachius yang tersumbat itu dapat berlanjut jadi peradangan telinga tengah. Yang dimaksud dengan peradangan telinga tengah adalah peradangan yang terjadi pada saluran Eustachius dan selaput lendir ruang telinga bagian tengah, yakni daerah di belakang gendang telinga. Penyebab peradangannya antara lain karena adanya infeksi pada cairan yang menyumbat bagian telinga tengah ini.
Cermati gejalanya. Radang telinga tengah yang dialami balita, bisa dikenali dengan sejumlah tanda atau gejala yang sangat bervariasi, mulai dari yang ringan hingga yang berat. Beberapa gejala yang umum dan mudah dikenali adalah:
- Sakit telinga. Disebabkan adanya tekanan dari cairan yang terkumpul di dalam telinga tengah pada gendang telinga. Bila balita sudah cukup besar, dia akan mengeluhkan sakit pada telinganya. Sementara bila si anak belum bisa mengeluh, dia mungkin akan menangis sambil menarik-narik daun telinganya.
- Demam tinggi, kadang disertai diare.
- Selera makan turun atau hilang, karena telinganya sakit pada saat mengunyah dan menelan. Juga, mungkin balita jadi tak bisa tidur nyenyak akibat terganggu rasa sakit pada telinganya saat berbaring.
- Keluarnya cairan kental dari lubang telinga yang menandai robeknya gendang telinga akibat tekanan cairan yang sudah demikian kuat. Kondisi ini akan menghentikan tekanan kuat oleh cairan pada gendang telinga, sehingga rasa sakit akan berkurang atau bahkan hilang, demam menghilang, dan anak pun tidak rewel lagi.
- Anak tidak memberikan respons terhadap suara yang pelan.
- Pada anak yang sudah agak besar akan mengeraskan volume TV, radio, atau alat elektronik lainnya untuk memperjelas pendengarannya yang kurang.
- Balita jadi punya kebiasaan berbicara dengan suara yang keras.
Cepat sembuh, kok! Pada umumnya, radang telinga tengah hanya berlangsung singkat. Ada yang hanya menyerang selama 2-3 hari, kemudian sembuh dengan sendirinya. Ada juga yang harus dibantu dengan obat dari dokter, dan perlu waktu antara seminggu hingga 10 hari untuk sembuh. Namun, cepat-lambatnya waktu penyembuhan, juga dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antara lain:
- Jenis infeksi dan tingkat keparahannya.
- Seberapa sering balita terserang infeksi telinga.
- Sudah berapa lama infeksi berlangsung.
- Faktor-faktor yang mempertinggi risiko terserang infeksi, misalnya daya tahan tubuh balita yang kebetulan sedang menurun akibat terserang penyakit lain.
- Seberapa parah serangan infeksi tersebut mengganggu fungsi pendengaran anak
Dari riset yang dipublikasikan dalam Journal of Infectious Disease edisiSeptember 1990, ditemukan anak-anak yang memiliki riwayat infeksi radang telinga tengah berulang-ulang sebelum umur 3 tahun, ternyata mengalami gangguan wicara dan gangguan belajar yang lebih parah dibandingkan anak-anak lain yang baru terserang gangguan ini setelah berusia di atas 3 tahun.
Jadi, yuk, kita waspada terhadap gejala infeksi radang telinga tengah ini, terutama saat anak belum mencapai usia 3 tahun.
Tips Mencegah Radang Telinga Tengah
Salah satu bagian telinga yang sering mengalami infeksi adalah sekitar gendang telinga. Infeksi telinga tengah yang bisa memicu timbulnya radang telinga tengah. Cegah dengan tips berikut
- Patuhi jadwal imunisasi. Beberapa jenis imunisasi seperti Hib dan pnemokokus dapat mencegah infeksi radang telinga tengah. Bila bayi berkali-kali terkena radang telinga tengah, pertimbangkan untuk memberikan imunisasi flu, yang baru bisa diberikan setelah usia 6 bulan.
- Beri ASI eksklusif. Penelitan terakhir Badan Pemantauan dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention) serta FDA (Food and Drug Administration) Amerika Serikat, menunjukkan bahwa bayi yang disusui dalam 6 bulan pertama kehidupannya, tidak mudah terkena radang telinga. Karena, ASI kaya zat antibodi.
- Setiap 6 bulan sekali, periksakan anak ke dokter THT untuk mengecek kesehatan telinganya dan kemampuan pendengarannya.
Buat para bunda harus bangga dan bahagia melihat langkah pertama balita walau masih diseret. Tak kenal menyerah, ia coba melangkah lagi dan lagi. Akhirnya, dengan penuh percaya diri, dia akan bisa berjalan mantap. Area jelajahnya pun semakin luas dan mengasyikkan.
balita 1 tahun kadang-kadang memilih kembali merangkak, bukan karena ia takut jatuh. Ia hanya belum menemukan keseimbangannya, dan merangkak adalah keputusan agar ia bergerak lebih efisien.
Dorong keinginan berjalan balita dengan:
- Menarik-mendorong benda seperti kursi, meja, container tempat mainan atau mainan khusus yang dapat ditarik atau didorong.
- Membawa mainan dari satu tempat ke tempat lain dengan wagon mainan, atau mainan truk yang dapat ditarik dengan tali.
- Naik-turun kursi.
- Meletakkan mainan jauh dari anak.
- Berenang di kolam renang plastik. Di kolam anak akan merasa lebih ringan berjalan.
Hindari:
- Memakai kaos kaki di dalam rumah. Karena licin, anak mudah terpeleset. Bairkan kaki anak tanpa alas saat ia belajar berjalan.
- Selalu memakai sepatu. Diawal belajar berjalan, indera peraba di kaki sangat diperlukan. Dengan kaki terbuka, balita leluasa mencari keseimbangan.
Sepatu dan kaos kaki. Anak butuh sepatu untuk melindungi kakinya dari benda-benda tajam saat berjalan di luar rumah.
Beri balita sepatu:
- Bersol karet yang tidak mudah tembus benda tajam.
- Bersol anti selip aagr anak tak mudah tergelincir.
- Ukuran sesuai kaki sehingga leluasa bergerak di dalam sepatu. Saat Anda menekan ujung sepatu, ada ruang antara ujung jari kaki anak dengan sepatu.
- Tidak membuat kaki mudah lecet.
Perhatikan keamanan. Setelah lancar berjalan, jagalah keamanan dalam rumah dengan:
- Menyingkirkan kursi kayu dan meja terbuat dari kayu atau kaca karena sudut-sudutnya yang tajam dapat melukai anak jika ia jatuh dan terbentur,
- Bersihkan lantai dari remah-remah makanan, mainan yang berserakan dan keset yang dapat membuat anak terjerembab karena licin atau kakinya tersangkut.
- Perhatikan pula kabel-kebal listrik dan amankan stop kontak yang terletak di bawah penutup stop kontak.
Berdiri-merambat-jalan. Berjalan adalah milestone yang sangat penting. Rata-rata anak mulai berjalan di usia 11 – 14 bulan. Menurut data yang ada, 3 dari 5 anak mulai berjalan di usia sekitar 12 bulan karena saraf dan otot-otot yang dibutuhkan untuk berjalan mulai berkembang sempurna. Selain itu, tulang kedua kaki anak pun cukup panjang dan kuat untuk menyangga seluruh tubuhnya, termasuk kepala sebagai pusat gaya berat tubuh. Selain itu, anak harus memiliki kemampuan mengkoordinasi seluruh tubuh dan anggota tubuhnya, serta melatih keseimbangan. Ketika dia mampu berdiri, itulah saatnya si kecil mencoba merambat yang akan dilakukannya dengan bertumpu pada benda yang dapat menyangga berat badannya, lalu bergerak maju. Bila periode merambat selesai, atau ia sudah mampu menyangga tubuhnya dengan kedua kakinya, anak akan mencoba berdiri beberapa detik untuk kemudian jatuh. Tak kenal menyerah, balita 1 tahun mencoba terus sampai ia semakin mantap melangkah, lalu berjalan.
Kapan anak bisa berjalan, tidak sama pada setiap anak. Ada anak usia 10 bulan sudah bisa berjalan, tapi ada yang baru berjalan di usia 12-14 bulan. Berjalan memang bukan kegiatan mudah. Otot tubuh (torso), otot kaki dan lengan, harus kuat untuk menopang berat badan anak yang mencapai 10-14 kg.
Setelah otot-otot kuat, kemampuan mengkoordinasi seluruh tubuh, mulai dari kepala, badan, kaki diperlukan. Selain itu, bentuk kaki dan tangan anak yang relativ masih pendek, tapi kepalanya sungguh besar untuk ukuran tubuhnya, merupakan tantangan bagi anak usia ini untuk menjaga keseimbangannya.
Setelah berlatih melalui kegiatan merangkak dan merambat selama berbulan-bulan, koordinasi dan keseimbangan yang dibangun melalui kegiatan merangkak lebih siap digunakan. Itu pun tak semudah kaki melangkah.
Bermula dengan bertumpu pada alat Bantu seperti tepian bassinet atau dinding, anak berusaha mengangkat tubuhnya, saat mencoba melangkah, ia melangkah dengan posisi menyamping karena tangan sibuk memegang. Jika si 1 tahun kadang-kadang memilih kembali merangkak, bukan karena ia takut jatuh. Ia hanya belum menemukan keseimbangannya, dan merangkak adalah keputusan agar ia bergerak lebih efisien.